Jumat, 21 Agustus 2009

tugas identifikasi resiko bisnis 1

Profil Perusahaan
Nama perusahaan : Indo Motor
Jenis usaha : Bengkel dan penjualan spare part motor
Alamat : Jl. Magelang No.44 Yogyakarta
Nama pemilik : Andi Wibowo
Tahun berdiri : 1988

Sejarah Singkat Perusahaan
Toko Indo Motor berdiri pada tahun 1988, yang dipelopori oleh Bpk. Andi Wibowo. Pada awal berdirinya, toko Indo Motor hanya melayani penjualan spare part motor saja. Dalam perkembangannya, pemilik ingin memperluas usahanya dengan menambah layanan jasa dalam bentuk bengkel sepeda motor sehingga memudahkan pelanggan untuk sekaligus memasang spare part yang dibelinya dengan menambah sedikit biaya pemasangan. Toko Indo Motor melayani pemasangan ban dalam, ganti oli, service, ganti kampas rem, dll.
Untuk mendukung kelancaran pelayanan, pemilik merekrut satu orang montir dan satu orang karyawan toko. Seiring berjalannya waktu, pemilik merasa perlu adanya penambahan jumlah karyawan agar dapat melayani pelanggan dengan lebih cepat. Pada tahun 1995, pemilik menambah jumlah karyawan menjadi lima orang pekerja, yakni dua orang untuk karyawan toko dan tiga orang untuk menjadi montir.


Identifikasi Resiko
Berdasarkan wawancara dengan pemilik, ada beberapa resiko yang dihadapi oleh toko Indo Motor, antara lain :
a) Resiko yang menjadi ancaman bagi toko Indo Motor :
- Kerusakan peralatan dan mesin
Dengan adanya montir yang kurang hati – hati dalam menggunakan peralatan bengkel dan penyetelan mesin kendaraan dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan bengkel dan mesin. Maka pemilik harus mengeluarkan dana lebih untuk mengganti kerusakan.
- Perputaran uang yang terlalu lama
Banyaknya sepeda motor keluaran terbaru dengan spare part yang berbeda – beda membuat spare part lama menjadi kurang laku. Hal ini menyebabkan penimbunan spare part lama yang berdampak pada perputaran uang yang terlalu lama.
- Kerusakan spare part
Karena penimbunan spare part yang terlalu lama, misalnya kaca spion yang terlalu lama ditimbun dan tidak sengaja pecah.
- Spare part palsu dengan kualitas kurang baik dan harganya tidak sesuai standard pasar
Adanya sales – sales yang “nakal” seperti menipu menjual spare part palsu dengan kualitas yang kurang baik dan harga yang tidak sesuai standard pasar.
- Pencurian dari orang dalam
Dengan mempekerjakan karyawan di dalam toko, kesempatan karyawan toko untuk mencuri semakin besar apalagi jika pemilik hanya mempercayakan sepenuhnya pada karyawan.
- Tidak maksimal dalam melayani konsumen
Jika sewaktu – waktu ada montir yang mengundurkan diri, pekerjaan bisa menjadi terhambat. Misalnya dengan tiga orang montir, seharusnya dapat mengerjakan 10 motor dalam sehari. Dengan adanya montir yang mengundurkan diri, hanya 5 hingga 6 motor yang dapat ditangani.
- Komplain dari pelanggan
Kerja montir yang kurang baik ( montir malas, ceroboh, tidak serius ) dapat menyebabkan komplain dari pelanggan sehingga toko dapat kehilangan kepercayaan dari pelanggan dan nama toko di mata pelanggan menjadi jelek.
- Kerugian akibat pelanggan “nakal”
Terkadang ada pelanggan yang ingin test drive sendiri. Akan tetapi, ternyata pelanggan tersebut justru merusak kepercayaan pemilik dengan langsung pergi dan tidak membayar.

b) Resiko yang menjadi peluang bagi toko Indo Motor :
- Harga jual spare part lama lebih tinggi
Dengan penimbunan spare part lama, saat terjadi kelangkaan toko tetap bisa memenuhi permintaan pelanggan. Selain itu, harga jualnya pun dapat lebih tinggi.

Antisipasi Resiko
Untuk mengantisipasi resiko – resiko yang ada di toko Indo Motor, pemilik biasanya melakukan hal – hal seperti di bawah ini:
- Lebih selektif dalam perekrutan karyawan
Untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan pada peralatan yang disebabkan oleh kecerobohan montirnya, maka pemilik akan lebih selektif dalam merekrut karyawannya. Sebelumnya pemilik akan melihat bagaimana cara kerja montir tersebut selama seminggu ke depan sebagai masa percobaan.
- Harus melihat kondisi pasar
Pemilik mengantisipasi penimbunan spare part yang terlalu lama yang menyebabkan perputaran uang yang terlalu lama dengan melakukan analisa kondisi pasar bulan berikutnya.
- Menyediakan tempat khusus untuk menyimpan spare part yang mudah rusak
Hal ini dapat mengurangi resiko terjadinya kerusakan spare part yang rawan terjadi kerusakan.
- Selektif dalam membeli spare part
Pemilik memilih spare part yang kerap laku di pasaran, sehingga walaupun terjadi penimbunan, spare part tersebut tetap laku untuk dijual kembali.
- Lebih selektif memilih sales
Karena banyaknya sales yang ternyata menjual spare part palsu, pemilik lebih selektif dalam memilih sales. Hal ini diterapkan dengan cara memilih sales – sales yang sudah lama dan terpercaya. Namun jika ada sales yang baru, tidak lantas ditolak, tetapi dilihat kualitas barang serta harganya.
- Adanya pemeriksaan rutin setiap hari
Untuk menghindari adanya kehilangan spare part, pemilik menerapkan pemeriksaan pada barang bawaan karyawan setelah toko tutup.
- Memberi peringatan
Selain menerapkan pemeriksaan rutin, pemilik juga memberikan peringatan pemotongan gaji bagi setiap karyawan jika terjadi kehilangan spare part toko, dan apabila terbukti mencuri, karyawan tersebut akan dikeluarkan.
- Pemilik juga memiliki keahlian dalam hal perbengkelan
Untuk mengantisipasi montir yang mengundurkan diri, pemilik membekali dirinya dengan keahlian yang cukup di bidang perbengkelan. Dengan demikian, selama pencarian montir baru, pemilik dapat turun tangan di bengkel sehingga bengkel pun dapat terus berjalan normal.
- Test drive hanya boleh dilakukan oleh montir
Supaya pemilik tidak ditipu mentah – mentah oleh pelanggan dengan alas an ingin test drive sendiri, pemilik menerapkan aturan bahwa hanya montirlah yang diperbolehkan melakukan test drive.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar